Perbedaan Kartu Kredit Syariah dengan Konvensional

Sebagai negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk perbankan syariah. Sudah banyak produk-produk bank dan surat utang yang dibuat dengan memakai prinsip syariah. Mulai dari KPR syariah, deposito syariah, dana pensiun syariah, hingga surat utang syariah atau biasa disebut sukuk.

Khusus kartu kredit, saat ini baru ada dua kartu kredit syariah yaitu, Hasanah Card BNI Syariah dan CIMB Niaga Syariah Gold. Bila dibandingkan dengan kartu kredit konvensional, kartu kredit syariah sebenarnya memiliki fungsi serupa.

Anda bisa memanfaatkan kartu kredit syariah untuk bertransaksi apa saja, tidak berbeda dengan kartu kredit konvensional.

beda kartu kredit syariah dengan konvensional

Lantas, apa perbedaan kartu kredit syariah dengan kartu kredit konvensional?

1. Penerbit Kartu

Penerbit kartu kredit syariah menerapkan prinsip syariah dalam setiap produknya. Bank penerbit kartu kredit juga tercatat sebagai bank syariah.

Hasanah Card, sebagai contoh, diterbitkan oleh Bank BNI Syariah bekerjasama dengan Mastercard sejak 2008 silam. Bisnis bank syariah diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keberadaan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia juga berperan penting dalam pengembangan perbankan syariah.

2. Akad Syariah

Ada tiga akad yang mendasari transaksi kartu kredit syariah. Pertama, akad kafalah. Yakni, penerbit kartu adalah penjamin atau kafil bagi pemegang kartu atas transaksi antara pemegang kartu dengan gerai atau merchant. Termasuk juga untuk penarikan tunai.

Kedua, akad qard. Yaitu, penerbit kartu merupakan pemberi pinjaman (muqridh) kepada pemegang kartu (muqtaridh) melalui penarikan tunai dari bank atau mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Ketiga, akad ijaroh. Ini berarti, penerbit kartu merupakan penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu. Sebab itu pemegang kartu dibebani biaya keanggotaan (membership fee) atau annual fee, dan penerbit kartu menerima fee atau ujrah.

3. Cara Penghitungan Cicilan

Penghitungan cicilan kartu kredit syariah memiliki perbedaan dengan kartu kredit konvensional. Ketika pemegang kartu hanya mampu melunasi tagihan minimal, bank menyesuaikan hitungan biaya dan tagihan selanjutnya. Berbeda dengan kartu kredit konvensional yang menghitung sisa tagihan belum lunas dengan bunga.

Tarif tetap berlaku di kartu kredit syariah. Jadi, ketika ada utang tidak dibayar lunas, pemegang kartu dikenakan biaya tertentu sesuai dengan berapa kali dia hendak mencicil utangnya. Biaya yang harus dibayarkan oleh pemegang kartu kredit bisa lebih ringan ketimbang kartu kredit konvensional.

Penyebabnya, bank konvensional menghitung biaya bunga si pemegang kartu berdasarkan beban utang bulan sebelumnya yang belum dibayar oleh pemegang kartu. Kartu kredit konvensional juga menghitung beban bunga dari nilai transaksi awal, alih-alih dari sisa tagihan saja.

Satu hal lagi yang membuat biaya kartu kredit konvensional semakin besar adalah jumlah hari utang juga dihitung dalam menetapkan beban tagihan.

4. Biaya Penagihan Ditetapkan di Awal

Kartu kredit syariah menetapkan biaya penagihan atau taawid yang dibebankan ketika si pemegang kartu terlambat membayar tagihan setelah jatuh tempo. Besar biaya ini ditetapkan di awal.

Hasanah Card dari BNI Syariah, misalnya, mematok biaya taawid dari Rp 15.000 sampai Rp 150.000 tergantung pada lama jatuh tempo dan jenis kartu. Sedangkan CIMB Syariah Gold Card mematok biaya taawid sebesar Rp 135.000.

Biaya ini dikenakan sebagai ganti rugi terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akibat keterlambatan pembayaran tagihan oleh si nasabah.

5. Promo dan Diskon

Kartu kredit syariah umumnya kalah menarik dari sisi tawaran diskon, promo atau cashback bila dibandingkan dengan kartu kredit konvensional.

Maklum, prinsip syariah sebenarnya mengarahkan pembiayaan untuk keperluan produktif. Selain itu, bank penerbit kartu juga akan otomatis memblokir pemakaian kartu kredit syariah yang digunakan untuk hal-hal yang tidak syariah. Misalnya, digunakan untuk bertransaksi di bar atau tempat judi.

Itulah lima perbedaan kartu kredit bank syariah dan bank konvensional. Selamat memilih kartu kredit yang sesuai pilihan Anda.

Artikel lainnya:

Leave a Comment