Apa itu Melek Finansial? Semua Hal Yang Perlu Anda Ketahui

Melek finansial (Financial Literacy) adalah kemampuan pemahaman konsep keuangan dasar seperti inflasi, tabungan, bunga, diversifikasi risiko keuangan, dan lainnya. Seseorang yang tidak melek finansial (financial illiterate) akan lebih sulit untuk melakukan manajemen keuangan dirinya sendiri dibandingkan dengan mereka yang lebih melek finansial (financial literate).

Tahukah kamu kalau 2 dari 3 orang di Indonesia tidak melek finansial? Apakah kamu termasuk yang melek atau tidak melek finansial?

Berdasarkan data dari Worldbank yang diperoleh dari riset terhadap 150 ribu orang yang tersebar di 140 negara, Indonesia memperoleh score sebesar 32% untuk tingkat melek finansial. Nilai ini lebih kecil sedikit dari score rata-rata seluruh negara, yaitu 33%.

Financial Literacy Test Scores - melek finansial
Sumber: Worldbank 2015

Secara keseluruhan, Indonesia memang cukup unggul di antara kebanyakan negara ASEAN, namun kalah jauh dari negara tetangga, yaitu Singapura (59%) dan Malaysia (36%).

Secara global, negara-negara Skandinavia (Norwegia, Denmark) memiliki score yang tertinggi (71%) yang disusul Kanada dan Israel (68%). Negara dengan score terendah antara lain Yemen (13%), Albania dan Afghanistan (14%), serta Angola dan Somalia (15%).

Yang sedikit unik adalah negara dengan ekonomi kuat tidak selalu memiliki score yang tertinggi. Amerika memiliki score yang cukup tinggi (57%), lalu disusul Jepang (43%) dan Rusia (38%). Negara lain seperti China dan India hanya memiliki score masing-masing 28% dan 24%, lebih rendah dari Indonesia.

Peringkat Indonesia termasuk cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, namun tingkat melek finansial Indonesia masih tergolong rendah dengan hanya 1 dari 3 orang saja yang melek finansial

Akibat Jika Tidak Melek Finansial

Seseorang yang tidak melek finansial akan lebih rentan terhadap kegagalan manajemen keuangan personal. Coba kamu bayangkan beberapa kondisi berikut:

  • Kamu tidak mengetahui pentingnya mempersiapkan dana hari tua. Saat pensiun nanti, kamu tidak memiliki tabungan hari tua yang cukup (atau bahkan tidak ada sama sekali).
  • Kamu boros menggunakan kartu kredit lalu kamu hanya melakukan pelunasan minimum setiap bulannya. Dalam waktu yang tidak lama, kamu bisa terjebak dalam lilitan utang yang besar.
  • Kamu tidak pernah mempersiapkan diri untuk keadaan darurat seperti mendadak kehilangan pekerjaan atau masuk rumah sakit karena kondisi kritis. Bisa-bisa, kamu tidak berkutik dalam keadaan darurat tersebut karena tidak memiliki dana darurat cadangan.

Itu hanya sebagian saja dari kemungkinan yang akan terjadi jika kamu tidak melek finansial. Meskipun kamu tidak memiliki latar belakang ekonomi dan keuangan, sebaiknya kamu mulai bebenah diri untuk menjadi lebih melek finansial.

Tidak melek finansial dapat mengakibatkan kamu kehilangan uang secara tidak disadari.

Apakah Kamu Sudah Melek Finansial?

Melek finansial bukan berarti sekedar kamu bisa menabung atau pernah berurusan dengan transaksi perbankan. Hal tersebut tidak bisa menjadi indikasi utama bahwa kamu telah melek finansial.

Nah, cobalah uji diri kamu sendiri dengan menjawab jujur beberapa pertanyaan berikut:

  • Apakah kamu tahu bahwa kredit kita di bank yang satu akan terbaca juga di bank lainnya?
  • Apakah kamu tahu kalau harga suatu barang di 5 tahun mendatang naik menjadi dua kali lipat dan penghasilan kamu juga naik dua kali lipat, jumlah barang tersebut yang dapat kamu beli tidak berubah?
  • Misalkan kamu meminjam Rp 100 juta untuk dikembalikan dalam 1 tahun, lalu dihadapkan dengan dua opsi pengembalian: Melunasi dengan membayar Rp 105 juta atau melunasi dengan bunga 3% per bulan. Apakah kamu tahu kalau opsi pertama akan menyelamatkan kamu dari biaya bunga yang tinggi?
  • Apakah kamu tahu bahwa mobil yang rusak akibat kelalaian kita sendiri tidak bisa dimintakan penggantian biaya perbaikan ke asuransi?

Misalkan kamu menaruh uang sebesar Rp 100 juta di bank. Bank memberikan bunga 10% per tahun. Apakah kamu tahu jika dana tersebut dibiarkan bertahun-tahun, jumlah bunga (dalam rupiah) yang diberikan bank setiap tahunnya akan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya?

Kalau kamu mengatakan ya terhadap minimal 3 pertanyaan di atas, maka dapat dikatakan bahwa kamu sudah tergolong orang yang cukup melek finansial. Namun, riset dari World Bank di atas menunjukkan bahwa sejumlah besar penduduk Indonesia belum melek finansial. Masih banyak yang belum mengetahui pentingnya pemahaman konsep finansial dasar untuk mempersiapkan diri yang lebih baik di masa depan.

Meskipun kamu sudah melek finansial, bukan berarti kamu bisa berbesar hati. Menerapkannya dalam hidup sehari-hari adalah yang terpenting.

Cara Menjadi Melek Finansial

Ada dua hal yang perlu diperhatikan agar kamu menjadi lebih melek finansial. Pertama-tama, kamu perlu mengenali dasar dari berbagai produk keuangan yang dapat membantu kamu sebagai berikut:

  • Tabungan tunai. Banyak orang beralasan tidak bisa menabung karena uangnya telah dipakai untuk kebutuhan lain. Jadikan tabungan sebagai bagian dari kebutuhan dan tentukan tujuannya, seperti tabungan pendidikan atau tabungan hari tua. Sisihkan sebagian uangmu setelah menerima pendapatan bulanan, setidaknya 10% dari seluruh penghasilan kamu.
  • Produk kredit, seperti kartu kredit dan pinjaman tanpa agunan (KTA). Kebanyakan orang menganggap produk kredit digunakan sebagai pinjaman untuk memenuhi kebutuhan tersier, seperti mengejar diskon di mal atau membeli tiket liburan murah. Sebenarnya, produk kredit juga dapat digunakan sebagai investasi produktif dan membawa keuntungan, misalnya untuk membangun rumah kontrakan atau menambah modal usaha.
  • Produk asuransi, seperti asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Banyak orang yang mengabaikan produk keuangan ini karena tidak memikirkan efek jangka panjang produk satu ini. Berbagai macam asuransi seperti asuransi kendaraan dan asuransi rumah adalah sebuah jaminan finansial. Selain itu, suatu hari di masa depan kamu menderita penyakit yang pengobatannya membutuhkan biaya besar, asuransi dapat membantu meringankan biaya yang dikeluarkan.
  • Produk investasi non uang, seperti emas, saham, reksadana, dan properti. Perangkat investasi kini lebih umum diketahui masyarakat. Memiliki investasi non uang di samping produk keuangan lain akan meminimalisir risiko keuangan sekaligus dapat menambah penghasilan kamu secara jangka panjang.

Kepemilikan semua produk dan jasa keuangan ini juga harus disertakan dengan pemahaman akan keuntungan dan kerugiannya. Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan antara lain cara menghitung bunga, hasil investasi, denda, dan risiko yang dapat terjadi untuk masing-masing produk tersebut.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah belajar cara mengatur pengeluaran personal. Kamu perlu menjadi lebih cerdas dalam mengatur berbagai pengeluaran kamu serta pembelanjaanyang kamu lakukan agar tidak sampai mengalami lebih besar pasak daripada tiang.

Untuk hal tersebut, sering-seringlah membaca berbagai artikel dan tips mengatur keuangan personal.

Artikel lainnya:

Leave a Comment